Protected by Copyscape Unique Content Check

Senin, 17 Januari 2011

Yang Kami Sembunyikan Dari Rahasia

By : Keenan Timotius

Di tepi jalan rumah sakit malam itu, Nita berbisik padaku. “Luisa, tolong jangan bilang pada Rahasia kalau gue merahasiakannya.”

Rahasia. Ya! Nama yang aneh memang untuk seorang teman. Sahabat jauh kami bertiga yang bermula dari obrolan social media biasa, namun selalu menolak bertemu ketika kami mengajaknya kopi darat.

Tapi dibalik keanehannya, dia jago menjelma. Bukan jadi power rangers atau kuntilanak, melainkan jadi tempat sampah. Setiap kali kami punya keluh kesah tentang kehidupan kami masing-masing, kami akan datang padanya dan dia akan menelan semua curahan hati kami dengan senang hati. Memang sih dia tidak bisa memberi solusi karena sedari lahir dia tidakmemiliki perasaan, tidak mampu mengerti apa itu masalah dan keluh kesah, tapi setidaknya dia sudah menghadirkan rasa lega nan langka untuk singgah ke lubuk hati kami sehingga kami dapat berpikir jernih kembali.

Awalnya semua berjalan menyenangkan sampai Nita, salah seorang anggota geng kami, mencoba berpetualang di dunia hitam yang selama ini menjadi pantangan bagi kami. Dia berpikir bahwa semua keterlibatannya dalam hal-hal tabu tersebut akan tersimpan rapat dalam tengkorak si Rahasia setiap kali dia bercerita padanya, yang membuat Nita semakin berani dan menjadi-jadi dari waktu ke waktu.

Namun ternyata Nita salah. Setelah terjerumus begitu dalam, dia baru sadar bahwa tidak bisa mundur lagi. There’s no turning back. Dia juga baru ingat kalau rahasia hanya mampu menyimpan & tidak sanggup menyelesaikan masalah.

Kisah ini bermula 3 minggu lalu atau sehari setelah ulang tahun mamaku. Nita tidak muncul di pesta tadi malam. Aku & Natasya pun semakin curiga pada sikapnya belakangan yang kerap menghindar. Bahkan di kampus kami sudah jarang bertemu!.

Malam itu Nita meneleponku. Dia tahu kalau Natasya lagi menginap di rumahku & meminta kami berdua untuk segera menemuinya. Tempat yang dipilih lumayan aneh : kantin belakang sebuah rumah sakit.

Kami pun segera bersiap-siap. Tidak sampai 1 jam, kami sudah tiba di tempat yang dimaksud & melihat Nia sedang duduk menunduk sendirian.

“Kenapa, Nit?” tanya Natasya. Nita mendongak memandang kami, rupanya dia baru habis menangis.

Ada preman yang membacok adikku.” jawabnya sengau.

Natasya mengerutkan dahinya, “Hah?? Kok bisa sih?”

Nita lalu bercerita bahwa sore itu 2 orang suruhan seorang bandar narkoba datang padanya. Mereka mengancam agar Nita membayar semua hutangnya tempo hari. Nita berusaha kabur tapi kalah cepat, dan saat itulah adiknya datang. Maksud hati ingin menolong kakaknya, tapi malah kena bacok sampai sekarat.

“Udah gue bilang Nit, jangan ikut-ikutan bisnis haram kayak gitu. Sekarang gini nih akibatnya.” kata Natasya. Nita hanya diam menatap kami. Dia benar-benar sangat bingung sekarang.

“Masalah utamanya : kita harus menyembunyikan rahasia secepatnya! Preman-preman itu sudah tahu tentang dia dan sekarang mengincarnya!” celetuk Nita tiba-tiba.

Duh! Pikirku. Teman kami Rahasia memang dengan sukarela menyimpan segala sesuatu, tapi dia paling benci kalau dirinya sendiri dirahasiakan. Sifat aneh berikutnya dari pribadinya yang memang sudah unik.

“Trus, gimana dong sekarang?” kali ini Natasya melotot pada Nita. Emosinya mulai naik. Kalau sudah begini cuma akan menambah masalah baru saja, gumamku dalam hati. Akhirnya kuputuskan untuk memasukkan suasana ini kedalam kulkas.

“Gini aja deh. Lo harus cerita dulu ke ortu lo tentang kondisi adik lo. Abis itu baru kita cari solusinya bareng-bareng. Apakah itu melapor ke polisi atau minta perlindungan ke lembaga bantuan hukum. Banyak cara kok!” aku mengulurkan tanganku ke Nita, “Tapi lo harus janji untuk tobat setelah semua ini berakhir!!”

Bendungan tangis Nita bobol sudah. Tanah di sekitar tempat kami berdiri pun kebanjiran air mata. Mudah-mudahan bukan air mata aligator atau anaconda.

***

Rio adik Nita, baru diperbolehkan pulang oleh dokter tepat sebulan setelah peristiwa pembacokan itu. Natasya ikut menjemputnya sedang aku tidak bisa karena harus mengurus persiapan seminar tugas akhirku di kampus.

Aku langsung kabur ke rumah Natasya setelah urusan seminar selesai. Semoga ada perkembangan baru soal kasus si bandar narkoba itu.

“Sebelum Nita sempat bersaksi, pengusaha itu udah ngaku via testimoni pengacaranya, tapi itu dilakukannya setelah dia kabur ke luar negeri. Jadi polisi langsung menetapkan dia jadi tersangka,” cerita Natasya.

“Trus kroni-kroninya? 2 orang yang ngancam Nita itu gimana?” lanjutku antusias.

Natasya menyahut tanpa menoleh, “2 orang itu udah ditangkap. Soal kroni yang lain, gue kurang tahu sih. Pastinya gue berharap polisi bisa menumpas gerombolannya sampai bersih!”

“Jadi Rahasia udah aman dong sekarang? Ga perlu sembunyi lagi kan?”

“Belum. Dia mungkin masih jadi target komplotan si pengusaha yang saat ini masih berstatus buron. Sembunyi masih jadi solusi terbaik buat dia.”

“Lagian, gue bersyukur karena Nita gak jadi bersaksi. Kalau sampai Nita bersaksi, otomatis Rahasia harus hadir. Dia pasti tidak akan senang kalau tahu yang sebenarnya.” tutupnya.

***

Hari ini aku chatting lagi dengan rahasia. Dia bilang dia turut senang dengan kondisi Rio yang semakin membaik. Disisi lain, secara diam-diam dalam hati aku tetap bertanya-tanya, benarkah segala keputusan yang telah kami ambil ini? Tentang kesepakatan kami untuk menyembunyikan kebenaran dibalik bencana yang menimpa Rio, tentang.Nita yang sempat terancam hidupnya, yang aku tahu pasti akan berujung pada cerita seputar bandar narkoba sialan itu. Bagaimana reaksi teman baik kami ini seandainya ia menyadari bahwa kami telah melanggar janji kami kepadanya?

Bahkan rahasia sendiri tidak senang kalau dirahasiakan. Tapi kita tetap punya celah sempit dalam diri kita masing-masing yang khusus diperuntukkan untuk merahasiakan sang rahasia itu. Apakah itu juga termasuk dosa??

Disadur dari :

@fiksimini RT @Nathan_Arieezz : “Jangan bilang pada rahasia kalau saya merahasiakannya..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar