Protected by Copyscape Unique Content Check

Minggu, 12 Desember 2010

SATAN-3

By : Keenan Timotius


MARSEILLE, 01.40 AM -Day 3-

“Jadi, apa saja yang sudah kamu ketahui?”

“Semuanya! Dari warisan ilmu hitam-mu, benih hasil ritualmu yang tak bisa kau hindari, pembunuhan Om Ardi, sampai rencanamu merebut tahta bisnis keluarga Hermawan!!”

Anita natap gue lama. Wajah cantiknya itu sekilas mancarin aura aneh, lalu tiba-tiba ia tergelak. Tawa lengkingnya segera mengisi tiap celah ruangan ini, ngegetarin suasana remang-remang dinihari.

So, Timo, harus kuakui sejauh ini kamu sangat pintar. Dan sebagai penghargaan atas jerih payahmu, kamu boleh hadir di upacara terakhir besok malam.”

Ada darah yang berjingkat-jingkat di pipi gue, dan mata gue mulai berkunang-kunang. Rasa perih dan pegel udah nyampur jadi satu. Gue hanya bisa menunduk, berharap ada keajaiban absurd yang datang kemari.

Lantai batu ini serasa tidak asing, tapi otak gue udah terlalu lemah buat mengolah hasil pengamatan inderawi itu. Tiba-tiba ada pukulan keras dari samping kiri, lalu....gue serasa melayang.

***

TEMPAT TIDAK DIKENAL, WAKTU TIDAK DIKETAHUI

Mobil kami bentar lagi akan masuk jurang, dan sambil ngebuka pintu gue teriak sekeras-kerasnya, “Janggaaaaannnnnnn!!!!”

BYUR!!

CRAS!!

“Selamat pagi, tuan detektif. Bagaimana perjalanan anda semalaman ini? Nikmat?” kata sesosok makhluk dengan tampang aneh didepan gue.

Refleks, gue ingin menampar mukanya, tapi ternyata tangan dan kaki gue terikat ke sebuah pilar. Sambil ngumpulin kesadaran, gue nyoba ngeliat sekeliling. Awalnya bingung, tapi makin lama satu demi satu petunjuk mulai bermunculan. INI HANGGAR KEMARIN, teriak gue dalam hati. Hanya saja, kali ini gak ada pesawat kertas super jumbo kayak di kunjungan gue yang pertama.

Sepintas jauh di depan ada kerlip-kerlip cahaya putih dan merah kekuningan bergantian dari tadi. Anehnya, kerlipan itu muncul secara teratur kayak ketukan nada. Gue penasaran, tapi untuk sekedar menengadah aja susahnya setengah idup. Tak lama kemudian, dari sebelah kanan ada bayangan orang mendekat. Perlahan, ia ngebuka ikatan kaki gue dan maksa gue untuk duduk.

Setelah kepala gue nyandar di batang pilar dan gue bisa narik nafas normal, barulah pemandangan di depan kelihatan jelas. Cahaya putih itu berasal dari benda mirip mangkuk berbentuk prisma yang berisi air berwarna. Pantulan sinar dari masing-masing warna kemudian nyampur jadi satu di sisi tengah mangkuk sehingga nyiptain warna putih bersih. Baiklah, pikir gue, itu cuma trik lama pembalikan bias pelangi. Tapi gue tetap kagum ama jangkauan sinarnya yang menyilaukan.

Waktu gue memalingkan muka dan ngeliat ke sumber cahaya merah kekuningan, mata gue sontak melotot. Ada kotak kaca transparan yang besar berisi 2 orang yang disalib pake rantai dan terkatung-katung diatas bara api. Lolongan pedih mereka teredam ama dinding kotak kaca itu.

Gue gak tahan ngeliat penderitaan mereka, dan yang bisa gue lakuin hanyalah merem atau menunduk. Tapi tiba-tiba ada yang mencengkeram dagu gue dan mendongakkan kepala gue menghadap ke arahnya. Saat gue lihat siapa orang itu, saat itu juga pengen gue ludahin dia.

“Timo, kamu sudah jadi anak baik hari ini, karena menikmati pertunjukan yang kami suguhkan tanpa banyak tingkah. Tapi kamu sebenarnya bisa lebih baik lagi, asalkan kamu mau menjawab tiap pertanyaan yang aku ajukan dengan baik.” Tangannya bergerilya di sepanjang pipi, belakang telinga, rambut, sampai pundak gue.

“Apa yang mau kau tahu, wanita jalang?!”

Anita gak merespon hinaan gue, malah dengan santai dia menarik satu kursi kayu dan duduk didepan gue. Wajah kami sekarang udah deket banget, bahkan gue bisa ngerasain deru nafasnya dan nyium bau parfumnya.

“Kita mulai dari pertanyaan sederhana aja. Sejak kapan kamu mulai ngikutin gerak-gerik kami?” mata birunya benar-benar penuh godaan saat ngelirik gue.

Gue bungkam, sambil buang muka ke arah yang lain. Ini salah satu cara untuk ngelak dari tatapan mautnya yang udah terkenal mampu menggoyahkan iman.

Tapi Anita bukanlah tipe cewek yang gampang nyerah. Jari-jarinya mulai berkutat di terusan kemeja gue, bermain-main di sekitar kancing.

“Apakah sejak Om kamu yang menggairahkan itu meninggalkan catatan kecil tentang gigolo langgananku, yang menuntunmu untuk datang ke Roma?”

SIAL!! Ternyata kecurigaan gue benar bahwa dia cewek biseksual. Satu rahasia lagi yang terkuak dari karakter kelam seorang Anita Judith Hermawati. Ini entah udah lapisan rahasia yang keberapa, tapi gue bakal benci banget kalau masih harus ngebongkar lapisan yang mungkin masih ada di bawahnya. Muak ngedengar isinya!!

“Jadi kau sebenarnya sadar kan kalau aku sudah membuntutimu dari Roma? Kenapa tidak langsung saja meringkusku, biar kalian semua bebas melanjutkan misi terkutuk ini, HEI PARA BANCI KERIPUT??!!” teriak gue pada bodyguard-bodyguard Anita yang berdiri agak jauh dari tempat gue.

Serentak, mereka saling pandang, lalu tertawa sejadi-jadinya. Gue bingung, gak ada yang lucu tapi mereka bisa-bisanya ngakak dengan spontan, seperti robot yang udah terprogram untuk ngasih respon tertentu setiap kali ada stimulan perintah tertentu. Sementara itu, Anita hanya tersenyum tipis ngeliat kelakuan gerombolannya ini.

Di tengah kericuhan itu, Anita membisikkan sesuatu ke kuping gue. “Pikiranmu sudah terjebak, Timo. Kamu terlanjur masuk ke labirin ilusi ciptaanku, dimana belum ada seorang pria pun yang pernah keluar dengan pikiran yang persis sama seperti saat dia masuk pertama kali dengan sukarela.”

“AKU TIDAK PERNAH MASUK KE LABIRIN HARAM ITU DENGAN SUKARELA, NENEK SIHIR BAJINGAN!!”

“Mungkin kamu tidak masuk sendiri, tapi Om Ardi, partner kesayanganmu itu yang membawamu masuk. Jangan lupa kalau dia pernah tergila-gila sebegitu rupanya padaku, Timo. Dan setelah dia sadar akan kesalahannya, semuanya sudah terlambat.”

Gue tercekat mendengar pernyataan itu. “Jadi maksudmu, waktu aku setuju bekerja sama dengan Om Ardi, saat itu juga ikatan mantra dalam dirinya pindah ke pikiranku, seperti parasit yang tidak diundang?”

Anita tersenyum lebih lebar lalu bersuara pelan, “kamu memang pintar, Timo.”

Ketika dia selesai ngomong, sebuah mobil masuk ke pelataran hanggar dan parkir tepat di depan panggung raksasa. Anita langsung berdiri dan berjalan cepat menuju ruang make-up yang terletak di tengah-tengah hanggar. Sementara gue hanya bisa tertunduk lesu karena baru menyadari kecerobohan yang harusnya bisa lebih cepat diantisipasi. Rontaan 2 korban di depan sana juga udah gak kelihatan lagi. Tubuh mereka udah abis dilalap api. Cahaya putih itupun udah berhenti berkedip.

Selanjutnya terdengar pintu mobil berdebam dibuka, diikuti seorang cowok bertopeng dan berjubah panjang merah marun keluar sambil menenteng sesuatu yang terbungkus kain. Menilik lekuk fisiknya, gue langsung lemas. Sang Benih udah sampe.



-bersambung-

Disadur dari :

fiksimini RT @candramalik : “Saksi? “Siksa!”

1 komentar:

  1. wah lumayan nih....visit,follow,dan baca jga ya cerpen2 saya di anugrahsite.blogspot.com

    BalasHapus